NTT, Globalindomedia.com,- Pendidikan lingkungan wajib masuk kurikulum sekolah, tegas Presiden Prabowo Subianto. Presiden menyampaikan arahan tersebut saat meninjau lokasi gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (26/8/2026). Ia menyoroti kondisi hutan di wilayah itu yang semakin gundul akibat kebiasaan membakar dan menebang pohon sembarangan.
Prabowo menegaskan generasi muda harus mendapat edukasi sejak dini agar tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar hutan. Ia mengingatkan para pejabat daerah, mulai dari bupati hingga gubernur, untuk menjadikan penanaman pohon sebagai program prioritas bersama warga.
“Jadi rakyat kita harus dikasih pendidikan, buka lahan tidak boleh dengan bakar-bakar,” ujar Prabowo dalam rapat koordinasi penanganan gempa di Nagekeo, NTT, sebagaimana disiarkan Kanal YouTube Sekretariat Presiden.
- Baca juga: Jalan Sehat Sidoarjo Semarakkan HUT Ke-81 RI
Slogan “No Tree, No Life” Jadi Peringatan

Presiden menekankan pentingnya keberadaan pohon bagi kelangsungan hidup manusia. Ia mengulang sebuah slogan beberapa kali di hadapan pejabat daerah untuk memperkuat pesannya. Prabowo menyebut hilangnya pohon akan memicu rantai kerusakan yang berujung pada krisis air bersih.
“Pohon adalah sumber kehidupan. No tree, no forest. No forest, no water. No water, no life,” kata Prabowo.
Presiden meminta pemerintah provinsi dan kabupaten menggalakkan penghijauan dalam skala besar. Ia mendorong agar program tersebut berjalan berdampingan dengan program pertanian.
Anak-anak muda dan pelajar sekolah menjadi sasaran utama edukasi karena mereka akan mewarisi lingkungan yang rusak apabila kebiasaan membakar hutan terus berlanjut.
Kurikulum Sekolah Jadi Fokus Kebijakan
Arahan terbaru ini menegaskan kembali kebijakan Prabowo di sektor pendidikan lingkungan yang sebelumnya sudah digulirkan.
Pada peringatan Hari Guru Nasional 2025, Presiden mendorong pendidikan lingkungan masuk sebagai mata pelajaran mandiri dalam kurikulum sekolah. Langkah itu disiapkan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim dan pemanasan global yang semakin nyata.
Prabowo menilai pendidikan formal menjadi kunci mengubah kebiasaan masyarakat dalam jangka panjang. Ia berharap pelajar yang memahami pentingnya menjaga hutan sejak bangku sekolah akan tumbuh menjadi generasi yang lebih peduli lingkungan.
NTT Kehilangan Banyak Pohon
Prabowo menyoroti kondisi NTT yang menurutnya dulu memiliki hutan lebat sebelum ratusan tahun penebangan besar-besaran terjadi. Ia mengaitkan sejarah itu dengan kedatangan bangsa Portugis dan Spanyol yang memburu kayu untuk kebutuhan angkatan laut mereka pada masa lalu.
“Di sini dulu daerahnya ini lebat kalau kita pikir 100 tahun yang lalu, 200 tahun yang lalu. Portugis, Spanyol datang ke sini mencari kayu untuk angkatan laut mereka,” ungkap Prabowo.
Presiden menilai kebiasaan membakar hutan yang masih terjadi hingga kini memperparah kerusakan lingkungan di NTT. Ia meminta kepala daerah turun langsung mengedukasi warga agar meninggalkan praktik tersebut.
Reboisasi dan Ketahanan Air Didorong
Selain edukasi lingkungan, Prabowo mendukung usulan Bupati Nagekeo untuk membuka lahan pertanian seluas 8.000 hektare. Presiden meminta jajarannya menyiapkan sumber air yang memadai lewat pengeboran maupun teknologi desalinasi bagi wilayah pesisir yang kekurangan air bersih.
Ia meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Pertahanan, TNI, dan fakultas teknik segera mengirim teknologi desalinasi ke daerah yang membutuhkan, termasuk Pulau Palue.
Prabowo menyebut penyediaan air bersih dan penghijauan harus berjalan beriringan agar program pertanian baru tidak mengulang kerusakan lingkungan yang sama.
Dampak bagi Generasi Mendatang
Kebijakan memasukkan pendidikan lingkungan ke kurikulum sekolah menyasar langsung generasi pelajar yang akan menghadapi konsekuensi jangka panjang dari kerusakan hutan di NTT.
Seperti ditegaskan Prabowo, “No tree, no forest. No forest, no water. No water, no life” — sebuah peringatan bahwa krisis lingkungan hari ini akan menentukan ketersediaan air dan pangan bagi anak-anak yang kini duduk di bangku sekolah.
Warsono.
