Kampung Tempe Parerejo Dongkrak Ekonomi Warga Desa

Pasuruan, Globalindomedia.com,- Kampung Tempe di Desa Parerejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, menjadi pusat produksi tempe terbesar di wilayah tersebut.

Hampir seluruh rumah warga memproduksi tempe setiap hari, menciptakan aroma khas kedelai rebus yang menyebar di sepanjang perkampungan.

Aktivitas produksi berlangsung sejak dini hari. Warga menyiapkan kedelai, merebus, meragi, hingga membungkus tempe menggunakan daun pisang atau plastik.

Baca juga: Kapolres Pasuruan Tekankan Etika pada Apel Perdana

Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi sumber penghidupan utama bagi masyarakat setempat.

Berdasarkan data pemerintah kecamatan, terdapat sekitar 185 pengrajin tempe aktif di Desa Parerejo. Total produksi tempe mencapai sekitar 20 ton per hari, dengan perputaran uang yang ditaksir menembus Rp200 juta setiap harinya.

Produksi Harian dan Ragam Olahan Tempe

Salah satu pengrajin, Mukhammad Irfan, mampu memproduksi hingga satu kuintal tempe per hari.

Ia tidak hanya menjual tempe dalam bentuk batangan, tetapi juga mengolahnya menjadi berbagai produk bernilai tambah.

Irfan memasarkan tempe mendoan, keripik tempe, nugget tempe, brownies tempe, hingga cookies berbahan dasar tempe.

Simak juga: https://www.instagram.com/reel/DTsKdsjEY1u/?igsh=bzFzM2JvNDlza2o=

Produk-produk tersebut dipasarkan ke pasar tradisional, toko oleh-oleh, serta melalui pemesanan langsung dari konsumen.

Dalam sebulan, omzet usahanya bisa mencapai Rp50 juta. Menurut Irfan, inovasi produk menjadi kunci agar tempe tetap diminati generasi muda dan mampu bersaing di pasar makanan modern.

Harga tempe batangan ukuran 23 x 35 sentimeter dengan berat sekitar dua kilogram dijual Rp30 ribu.

Tempe kemasan mika dijual Rp10 ribu per kotak, sedangkan tempe mendoan isi enam lembar dibanderol Rp6 ribu. Keripik tempe dijual Rp70 ribu per kilogram.

Edukasi Produksi Tempe dan Pemberdayaan Warga

Selain memproduksi, Irfan juga membuka kelas edukasi bertajuk “Omah Edukasi Tempe”.

Program ini menerima kunjungan pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang ingin belajar proses pembuatan tempe dan pengolahannya.

Peserta belajar mulai dari pemilihan kedelai, teknik fermentasi, hingga pengemasan produk.

Camat Purwodadi, Sugiarto, menyebut Kampung Tempe Parerejo sebagai contoh desa berbasis industri rumahan yang berhasil bertahan puluhan tahun.

Ia menilai kualitas tempe Parerejo tetap terjaga karena warga memegang standar produksi yang konsisten.

Menurutnya, sektor tempe tidak hanya menyerap tenaga kerja lokal, tetapi juga memperkuat ekonomi desa secara berkelanjutan.

Pemerintah kecamatan terus mendorong penguatan merek, peningkatan kemasan, dan perluasan pasar digital.

Dampak Ekonomi dan Ketahanan Usaha Lokal

Aktivitas produksi tempe menciptakan rantai ekonomi yang luas, mulai dari pemasok kedelai, penjual ragi, pedagang pasar, hingga jasa distribusi.

Banyak keluarga mampu menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi dari hasil usaha tempe.

Warga juga saling berbagi tenaga dan peralatan saat permintaan pasar meningkat, terutama menjelang hari besar keagamaan.

Pola kerja kolektif ini memperkuat solidaritas sosial di tingkat desa.

Dengan dukungan promosi dan pelatihan usaha, desa ini dapat menjadi model pengembangan ekonomi mikro berbasis kearifan lokal.

“Potensi ini harus dijaga bersama agar tetap menjadi sumber penghidupan generasi berikutnya,” tegas Sugiarto, menutup pernyataannya.

Warsono.

One thought on “Kampung Tempe Parerejo Dongkrak Ekonomi Warga Desa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *