Pasuruan, Globalindomedia.com,- Kecamatan Tutur penghasil paprika terbesar di Jawa Timur terus menunjukkan geliat ekonomi berbasis pertanian hortikultura.
Wilayah yang berada di lereng Gunung Bromo, Kabupaten Pasuruan ini dikenal sebagai sentra utama paprika dengan ratusan ribu tanaman yang tumbuh produktif di beberapa desa.
Para petani memanfaatkan kondisi geografis dengan ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut (mdpl) untuk menghasilkan paprika berkualitas tinggi.
Suhu sejuk dan kelembapan stabil membantu tanaman tumbuh optimal sepanjang tahun, sehingga pasokan tetap terjaga.
Baca juga: ASN Sidoarjo Perkuat Komitmen Pelayanan Publik 2026
Salah satu petani yang merasakan dampak positif sektor ini adalah Eddy Sudarsono dari Dusun Yitnan, Desa Tlogosari. Ia mengelola dua green house dengan sekitar 4.000 pohon paprika yang saat ini sedang berbuah dan siap panen.
Produksi Stabil dari Green House Modern
Eddy memanen paprika dalam berbagai warna, mulai dari hijau, merah, hingga kuning. Ia menyesuaikan waktu panen dengan permintaan pasar agar kualitas dan harga tetap kompetitif.
Dalam satu pohon, Eddy mampu memanen sekitar 3–5 kilogram paprika. Ia memprioritaskan paprika hijau karena permintaan paling tinggi dan harga relatif terjangkau dibandingkan varietas lain.
“Kalau yang hijau dijual antara Rp22 ribu sampai Rp25 ribu per kilogram. Paprika merah sekitar Rp35 ribu, sedangkan kuning bisa mencapai Rp45 ribu per kilogram,” ujar Eddy saat ditemui di kebunnya, Senin (12/1/2026).
Simak juga: https://www.instagram.com/p/DTbpn4SjyfC/?igsh=MWl1NHQ2ZTM3emMxaw==
Sistem green house membantu Eddy mengendalikan hama, menjaga kualitas buah, dan meningkatkan produktivitas. Ia juga rutin melakukan perawatan tanaman dan pengaturan nutrisi agar hasil panen tetap konsisten.
Pasar Nasional dan Omzet Menjanjikan
Paprika asal Tutur tidak hanya memenuhi pasar lokal, tetapi juga menembus pasar nasional. Pembeli datang dari Surabaya, Jakarta, Kalimantan, hingga Papua.
Sebagian pembeli bahkan mengambil langsung hasil panen dari kebun.
“Begitu panen, pembeli sudah datang untuk mengambil,” kata Eddy singkat.
Dari hasil penjualan, Eddy mencatat omzet kotor sekitar Rp30 juta per bulan. Setelah dikurangi biaya tenaga kerja dan perawatan, pendapatan bersihnya berkisar Rp15 juta hingga Rp20 juta.
Ia menggunakan keuntungan tersebut untuk menabung dan memperluas area tanam.
Model pemasaran langsung dari kebun ini memangkas rantai distribusi, sehingga petani memperoleh harga lebih stabil dan konsumen mendapat produk segar dengan kualitas terjamin.
Dukungan Pemerintah dan Harapan Pengembangan
Camat Tutur, Hendi Candra Wijaya, menyebut ribuan hingga ratusan ribu tanaman paprika tersebar di beberapa desa, dengan konsentrasi terbesar di Desa Tlogosari.
Ia menilai potensi paprika sebagai komoditas unggulan daerah yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Hanya saja, yang paling banyak memang di Desa Tlogosari,” jelas Hendi.
Pemerintah kecamatan mendorong petani untuk terus mengembangkan budidaya paprika melalui peningkatan teknologi pertanian, akses pasar, dan pendampingan teknis.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat posisi Kecamatan Tutur sebagai sentra paprika nasional.
“Harapannya semakin berkembang dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Kecamatan Tutur ini bisa menjadi gudang paprika nasional,” tegas Hendi.
Keberhasilan paprika Tutur tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan petani, tetapi juga membuka lapangan kerja, menggerakkan sektor agrowisata, dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
Dengan dukungan berkelanjutan, komoditas ini berpotensi menjadi ikon ekonomi hijau Kabupaten Pasuruan.
Warsono.

One thought on “Kecamatan Tutur Penghasil Paprika Terbesar Di Jawa Timur”