Sidoarjo, Globalindomedia.com,- Kasus MBG Sidoarjo meluas setelah ratusan siswa dan santri mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan keracunan makanan usai menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah Provinsi Jawa Timur meminta Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan Puskesmas bergerak cepat mengecek siswa yang tidak masuk sekolah.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak meminta absensi siswa diperiksa pada Rabu (2/9/2026). Langkah itu untuk menemukan kemungkinan siswa yang mengalami keluhan kesehatan tetapi tidak dibawa keluarganya ke fasilitas kesehatan.
Dinkes dan Puskesmas Jemput Bola
Emil meminta Dinas Kesehatan dan Puskesmas setempat melakukan pengecekan langsung ke rumah apabila menemukan siswa yang tidak masuk sekolah.
Baca juga: Subandi Tekankan Efisiensi dan Inovasi Layanan P2CKTR
Langkah tersebut menjadi bagian dari penanganan setelah kasus dugaan keracunan MBG di Sidoarjo berkembang. Pemerintah khawatir sebagian siswa memilih menjalani perawatan secara mandiri di rumah.
“Kalau ada yang enggak masuk itu segera dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas untuk jemput bola ngecek kondisi anaknya,” kata Emil seperti dikutip Suara Surabaya, Rabu (2/9/2026).
Pemeriksaan absensi diharapkan membantu petugas mendeteksi lebih cepat siswa yang mengalami diare, muntah, atau keluhan kesehatan lainnya.

Korban Dugaan Keracunan Capai Ratusan
Data penanganan korban terus bergerak. Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo sebelumnya mencatat ratusan siswa dan santri mendapatkan perawatan setelah menyantap menu MBG.
Suara Surabaya melaporkan Pemkab Sidoarjo membahas kemungkinan menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) setelah dugaan keracunan tersebut menimpa 566 siswa. Kepala Dinkes Sidoarjo dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina menyebut keputusan KLB masih didiskusikan bersama Sekretaris Daerah.
Sementara itu, pembaruan data yang dikutip IDN Times menyebut total pasien mencapai 592 orang, dengan 79 pasien masih menjalani rawat inap, 494 pasien sudah keluar, dan 19 pasien masih dalam observasi.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan proses pendataan dan pemantauan korban masih berlangsung.
Sampel Makanan Diuji Laboratorium
Dinkes Sidoarjo juga mengambil langkah untuk mencari penyebab pasti kejadian. Petugas mengirim sampel muntahan siswa dan sejumlah bahan makanan MBG ke Laboratorium Kesehatan Surabaya.
Lakhsmie memperkirakan hasil pemeriksaan laboratorium keluar sekitar satu minggu. Pemeriksaan tersebut menjadi salah satu dasar untuk menentukan langkah berikutnya terhadap kasus tersebut.
Dinkes juga mengaktifkan mekanisme krisis kesehatan untuk menangani korban dalam jumlah besar. Penanganan dibagi antara lokasi kejadian dan fasilitas kesehatan, dengan koordinasi lapangan melibatkan Puskesmas.
Pemerintah Fokus Keselamatan Siswa
Kasus ini membuat pemerintah daerah memperketat pemantauan kondisi siswa penerima MBG. Selain menangani korban yang sudah mendapatkan perawatan, petugas kini berupaya menemukan siswa yang mungkin sakit tetapi belum memperoleh pemeriksaan medis.
Dengan pemeriksaan absensi sekolah dan kunjungan langsung ke rumah, pemerintah berharap seluruh siswa yang mengalami gejala dapat segera teridentifikasi dan memperoleh penanganan.
Gery
