Kekeringan Ekstrem Jatim Berlanjut, Awal September Minim Hujan

Surabaya, Globalindomedia.com,- BMKG Jatim mencatat kondisi kekeringan ekstrem melanda sejumlah wilayah menjelang awal September 2026. Stasiun Klimatologi Jawa Timur menyebut hari tanpa hujan (HTH) di beberapa titik pengamatan telah melampaui 60 hari berturut-turut. Curah hujan diprediksi masih minim hingga awal bulan depan.

Kondisi ini terjadi bersamaan dengan puncak musim kemarau yang menurut BMKG Juanda berlangsung sejak Juli hingga September 2026 di berbagai daerah Jatim. Sebagian wilayah, termasuk Surabaya, bahkan sudah memasuki puncak kemarau sejak Juli lalu. Suhu siang hari di sejumlah lokasi tercatat menembus 34 derajat celsius.

Titik Kekeringan Tersebar di Beberapa Daerah

Data pemantauan BMKG Jatim pada Dasarian III Juli 2026 menunjukkan tiga titik pengamatan di Jawa Timur masuk kategori HTH ekstrem panjang, yakni lebih dari 60 hari tanpa hujan. Ribuan titik lain di Indonesia turut mencatat HTH sangat panjang antara 31 hingga 60 hari, dengan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara menjadi wilayah yang paling dominan mengalaminya.

Baca juga: Harga BBM Naik 1 September, Pertamax Turbo Rp19.600

Memasuki Dasarian II Agustus 2026, BMKG menetapkan status peringatan kekeringan meteorologis berjenjang, mulai dari Waspada, Siaga, hingga Awas. Sejumlah kabupaten/kota di Jatim masuk kategori tertinggi tersebut. BMKG menyebut hampir 91 persen wilayah Indonesia berada dalam kategori curah hujan rendah selama periode itu.

El Nino dan IOD Positif Jadi Penyebab Utama

Fenomena iklim global turut memperparah kekeringan di Jatim. BMKG mencatat anomali suhu muka laut di wilayah Nino3,4 mencapai +2,77, angka yang menunjukkan El Nino berintensitas sangat kuat. Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) dasarian juga tercatat positif di angka +0,457.

BMKG mencatat kekeringan ekstrem di Jawa Timur menjelang awal September 2026. Curah hujan masih rendah akibat El Nino kuat dan IOD positif.

Kombinasi kedua fenomena tersebut menekan pembentukan awan hujan di wilayah selatan Indonesia, termasuk Jawa Timur. Angin monsun Australia yang bersifat kering turut memperkuat dominasi cuaca panas pada siang hari dan suhu dingin ekstrem pada malam hingga pagi hari, atau yang dikenal sebagai fenomena bediding.

Awal September Masih Berpotensi Kering

BMKG memperkirakan dinamika atmosfer pada akhir Agustus hingga awal September 2026 masih mendukung kondisi kering di banyak wilayah Indonesia. Artinya, musim kemarau di Jatim belum sepenuhnya berakhir meski kalender telah memasuki bulan baru.

Curah hujan rendah masih berpotensi terjadi di Jawa, termasuk Jawa Timur, meski hujan lokal tetap mungkin muncul akibat dinamika atmosfer setempat. BMKG mengimbau masyarakat tetap mengikuti informasi cuaca terbaru karena kondisi antardaerah tidak selalu seragam.

Himbauan BMKG untuk Masyarakat dan Pemda

BMKG meminta masyarakat dan pemerintah daerah memperkuat langkah antisipasi menghadapi dampak kekeringan panjang. Beberapa langkah yang disarankan meliputi penghematan air bersih, penyesuaian pola tanam yang tahan kekeringan, serta kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama BMKG Juanda, BNPB, Polda Jatim, dan Kodam V/Brawijaya sebelumnya telah menggelar rapat koordinasi mitigasi bencana kekeringan. Forum tersebut menghasilkan kesepakatan bersama sebagai landasan penanganan cepat menghadapi musim kemarau 2026 di wilayah Jatim.

BMKG juga mengingatkan warga menjaga kondisi tubuh dari dehidrasi akibat cuaca panas siang hari. Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan diminta menggunakan pelindung matahari dan mencukupi kebutuhan cairan tubuh selama puncak kemarau berlangsung.

Gery

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *